Adaptasi Sistem Informasi Desa

Sistem Informasi Desa tidak hanya sistem komputasi yang canggih, namun meliputi semua media yang digunakan untuk menngelola, menyimpan dan menyebarluaskan informasi. Seperti halnya Papan Informasi, dan hal lainya yang biasa digunakan.

Sistem Informasi Desa tidak hanya sistem komputasi yang canggih, namun meliputi semua media yang digunakan untuk menngelola, menyimpan dan menyebarluaskan informasi. Seperti halnya Papan Informasi, dan hal lainya yang biasa digunakan.

Sistem Informasi Desa (SID) merupakan fenomena nasional yang mencuat pada awal tahun 2014. hal ini terjadi akibat responsitas pasca disahkannya Undang Undang no 6 Tahun 2014 tentang Desa pada tanggal 15 Januari 2014. Peristiwa ini dicatat dalam lembaran negara Republik Indonesia tahun 2014 nomor 7.

Pengertian Sistem Informasi Desa (SID) berdasarkan undang undang tersebut adalah meliputi fasilitas perangkat keras dan perangkat lunak, jaringan, serta sumber daya manusia. Jauh sebelum UU Desa lahir, Combine Resource Institution (CRI) telah mengembangkan Sistem Informasi Desa.

Menurut CRI, Sistem Informasi Desa adalah seperangkat alat dan proses pemanfaatan data dan informasi untuk mendukung pengelolaan sumberdaya berbasis komunitas di tingkat desa. Kaitan dalam hal ini, kemungkinan besar Pengejewantahan SID oleh negara kala itu adalah mengadopsi model yang dikembangkan oleh CRI.

Inklusi merupakan salah satu prinsip dalam Sistem Informasi Desa, meskipun belum 100 % inklusi, namum usaha kearah sana sudah dilakukan salah satunya dalam menu statistik untuk konteks disabilitas. Kerjasama dengan SIGAB dalam menyusun instrumen analisis. Tujuan penerapan SID di desa disesuaikan dengan kebutuhan desa. Pembagian peran.

Pembelajaran Sistem Informasi Desa bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya melalui media sosial : https://www.facebook.com/groups/sisteminformasidesa/ hal ini dibuktikan oleh Pemdes Tambahharjo. Ini adalah pertemuan kedua kali dengan Combine, Pertama di Event Kopi Darat SID dan Kedua langsung berbagi informasi. Komunikasi melalui percapakan facebook terekam pada akhir Maret 2015. tambahrejo.16mb.com, kemudian berpindah menjadi http://tambahrejo.web.id/

Bulan desember aktif digrup dan ketemu teman-teman dan bisa merupah sid yang tampilannya sederhana menjadi lebih menarik yang diperoleh dari grup facebook. Terakhir bulan kemarin sama kkn membuat video desa langkah saya pelan tidak ngebutena karena … komunitas internet cerdas dan komunikatif agar nanti mereka itu bisa kontributor berita ke web site desa. desa menginformasikan apa apa yg bermanfaatkan dr dunia maya.

Untuk membantu para ukm mempromosikan produk potensi desa. kemudian ada menu entrepenership. Ada tambah pedia untuk menambah pengetahuan. Ada info pasar ada informasi pasar di desa kami uga penghasil buah jambu getas merah. Ketika membuat jaringan harga, kebutuhan hasil bumi dan sebagainya. Menu2 yang kami buat kami pikirkan matang.

Menu statis untuk data desa. kami melangkah kependataan penduduk akan kami import ke SID. KK salah terutama pekerjaan, buruh harian lepas harapannya bisa memberikan informasi yang benar jadi bisa kasih data yang akurat. SID yang sesuai harapan kami. Kami juga melangkah rata2 punya hp android, orang tua kurang paham. Kami membuat website desa jadi aplikasi android.

Tujuan intinya membangun SID untuk bgmn masy maupun pemdes menginfokan pada publik ttg produk desa ke publik, pemdes bisa membagikan rencana kerja dan pencapaian kerja ke publik untuk mencapai transparansi di desa tambah rejo.

Desa kami terpencil di bantul, desa dataran tinggi. Jogja lantai dua. Bahwa dlingo cocoknya ikut GK, kalau siang ikut bantul malam ikut GK. Krn kl malam masyarakat listriknya ikut GK. Kami baru menggunakan SID jujur desa kami adalah desa yang baru hidup tahun 2012, krn desa kami ini mati suri, krn desa kami sebelum 2012 krn ditinggal lurah desa krn korupsi dana rekonstruksi, pelayanannya susah.

Setelah 2012 bapak bahrun wardaya punya motivasi mengubah desa dlingo. Berubah dari mati suri menjadi hidup. Ada potensi wilayah desa kami. Beliau berusaha menghidupkan kelembagaan di desa dlingo. Karang taruna dan PKK mati suri.

Kita di desa membangun desa harus melibatkan anak muda. Sekarang banyak anak muda yang konsen mengalami bidang IT. Begabung dan berkecimpung di desa ini. Ke depan tantgannya luar biasa. Mengubah bidang IT. Tdk mudah mengumpulkan anak muda. Ketika masyarakat ikut partisipasi dalam desa, dari situ kita mengubah image dari sini. Wadah dari anak2 muda dari berbagi kemampuan. Adanya akses internet di Balai Desa menbuat warga (khususnya anak anak muda) berkumpul dibalai desa

Beberapa Dokumentasi tentang Workshop tersebut.

1. CRI Terlibat dalam acara Temu Inklusi 2016

2. SID Tidak Bisa Dikelola Sendirian

3. Beri Aku 10 Pemuda, Niscaya akan kuguncang dunia (Bung Karno)

4. Desa Dlingo Berbagi Cerita Tentang SID bersama Kaum Disabilitas

5. Instagram Photo

Lokakarya Pengalaman Tata Kelola SID, sesi Desa Dlingo Bantul #temuinklusi2016

A photo posted by Astuti Parengkuh (@astuti_parengkuh) on

6. Cerita Dari Sumba Barat dan Sumba Barat Daya

7. Pembacaan Rekomdasi Khusus SID

Presentasi Perjalanan SID

Presentasi Profil Sandigita

Sumber : Lumbung Komunitas

Workshop Tematik Pengalaman Tata Kelola Sistem Informasi Desa

Wokrshop Tematik

Wokrshop Tematik “Pengalaman Tata Kelola SID”

Temu Inklusi 2016 merupakan kegiatan dua tahunan yang diinisiasi oleh Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) sebagai wadah terbuka yang mempertemukan berbagai pihak pegiat inklusi Difabel. Forum dua tahunan ini dirintis pertamakalinya pada Desember 2014, bertempat di Desa Sendangtirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta. Lebih dari 300 partisipan yang merupakan perwakilan organisasi Difabel, organisasi masyarakat sipil, serta individu pegiat inklusi Difabel telah menjadi bagian dari Temu Inklusi 2014 yang menghasilkan gagasan dirintisnya ‘Desa Inklusi’.

Dalam dua tahun terakhir, berbagai inisiatif dan gerakan inklusi Difabel terus bertambah dan menunjukkan banyak tunas praktik baik dan keberhasilan. Gagasan Desa Inklusi yang digagas pada Temu Inklusi 2014 telah mulai dirintis di sejumlah Kabupaten. Di beberapa Kabupaten – Kota, praktik Kota / Kabupaten Inklusi pun mulai dibangun dan dikembangkan. . Di saat yang sama, gerakan kolektif untuk mendorong kebijakan yang mendukung inklusi Difabel pun membuahkan hasil positif dengan disahkannya Undang-Undang nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Bersama itu semua, masih banyak inisiatif lain yang dilakukan oleh berragam komunitas dan memberikan kontribusi positif untuk menjawab tantangan atas inklusi Difabel dalam berbagai sektor.

Di balik kemenangan-kemenangan kecil tersebut, ruang berbagi, jejaring serta kolaborasi dan merajut gagasan bersama merupakan bagian dari proses penting yang turut ambil bagian. Temu Inklusi 2014 bukan hanya telah menjadi ruang berkumpul dan berinteraksi, namun menghasilkan gagasan-gagasan yang mulai membawa perubahan di tingkat lokal, salah satunya adalah Sistem Informasi Desa (SID).

Sistem Informasi Desa (SID) merupakan fenomena nasional yang mencuat pada awal tahun 2014. hal ini terjadi akibat responsitas pasca disahkannya Undang Undang no 6 Tahun 2014 tentang Desa pada tanggal 15 Januari 2014. Peristiwa ini dicatat dalam lembaran negara Republik Indonesia tahun 2014 nomor 7.

Pengertian Sistem Informasi Desa (SID) berdasarkan undang undang tersebut adalah meliputi fasilitas perangkat keras dan perangkat lunak, jaringan, serta sumber daya manusia. Jauh sebelum UU Desa lahir, Combine Resource Institution (CRI) telah mengembangkan Sistem Informasi Desa.

Menurut CRI, Sistem Informasi Desa adalah seperangkat alat dan proses pemanfaatan data dan informasi untuk mendukung pengelolaan sumberdaya berbasis komunitas di tingkat desa. Kaitan dalam hal ini, kemungkinan besar Pengejewantahan SID oleh negara kala itu adalah mengadopsi model yang dikembangkan oleh CRI.

Sistem Informasi Desa merupakan bagian pembawa perubahan ditingkat lokal – regional, tercatat sejumlah penerap SID yang mulai menggunakan SID sebagai tools dalam analisa terkait disabilitas. Secara umum memang dalam SID telah disediakan ruang untuk pencacahan jiwa atau pendokumentasian tentang disabilitas. Secara khusus yang menggunakan SID untuk melakukan sensus disabilitas adalah 6 desa di Kabupaten Kulonprogo dan 2 Desa di Kabupaten Sleman.

Data dan Informasi menjadi bagian untuk alih bentukan menjadi suatu manfaat yang bisa dirasakan terutama oleh warga dan sumber kaiian dalam perencanaan pembangunan untuk kesehteraan bersama. Peranan warga desa sangat berpengaruh pada kemandirian dalam mengisi pembangunan.

Kegiatan di Desa Jatirejo Lendah Kulonprogo akan berkoordinasi dengan Desa Desa Penerap SID (sebagai Narasumber) dan SIGAB selaku Host Acara

 Tanggal dan Lokasi Kegiatan

Hari/ tanggal : Jumat, 26 Agustus 2016

Jam : 13.30 – 16.30

Lokasi : Desa Jatirejo Lendah Kulonprogo

Narasumber Kegiatan :

M. Amrun : Fasilitator/ Moderator Kegiatan

Irman Ariadi : Perjalanan SID

Sandigita : Sinergitas generasi muda dalam mengelola Sistem Informasi Desa

Desa Tambahrejo Kecamatan Pageruyung Kendal : Sinergitas Perangkat Desa dalam mengelola Sistem Informasi Desa

Bahan yang digunakan dalam kegiatan ini:

  1. Website Desa Dlingo http://dlingo-bantul.desa.id/

  2. Website Desa Tambahrejo http://tambahrejo.web.id/index.php/first

  3. Website Lumbung Komunitas http://lumbungkomunitas.net/

  4. Dokumentasi Media Massa.

Lokasi Kegiatan

Sumber : Lumbung Komunitas  Dan Temu Inklusi 2016

Geliat SID di Tanah Bertuah

Baru satu tahun prakarsa penerapan Sistem Informasi Desa (SID) di lima desa percontohan di Kabupaten Serdang Bedagai dampingan BITRA Indonesia langsung mendapat apresiasi positif dari Bupati Serdang Bedagai (Sergai). Pasalnya, awal Juni ini Ir H. Soekirman Bupati Sergai meluncurkan SID dan menandatangani Peraturan Bupati tentang Penerapan SID di Kabupaten Serdang Bedagai.

Bupati Sergai merencanakan SID akan diterapkan di 243 desa se Kabupaten Serdang Bedagai. Dalam sambutannya, yang dilansir dari http://dlingo-bantul.desa.id/index.php/first/artikel/449 bupati menyatakan bahwa teknologi harus memudahkan dan mempercepat pelayanan publik dan diharapkan pencanangan SID ini menjadi keterbukaan informasi dan menjadi desa yang berdaya saing.

Sejauh ini, pemanfaatan SID oleh lima desa percontohan pun beragam. Mulai dari pemanfaatan untuk peningkatan pelayanan, pendataan dan analisa kemiskinan partisipatif (AKP), pemerataan partisipasi pembangunan, transparansi, promosi produk unggulan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan kelompok masyarakat desa, serta berbagai manfaat lain yang dapat dioptimalkan.

“Kami melihat, beberapa desa kini mengalami peningkatan permintaan dan perluasan pasar dari produk-produk unggulan desanya”, ungkap Wahyudhi, Direktur BITRA Indonesia.

Tantangan pun dilontarkan oleh Bupati Sergai di hadapan dua ratusan kepala desa pengembang SID yang hadir di Aula Sultan Serdang dalam kegiatan Forum Inspirasi Desa. “Ke depan, jika memungkinkan produk-produk desa ini dapat diselenggarakan jual belinya secara online?”, ucap Ir. H Soekiman.

Peningkatan perekonomian memang dirasakan masyarakat sejak produk UKMnya mampang di website desa yang merupakan representasi SID. Senin, 14 Maret lalu salah satu media nasional Kompas mengangkat cerita sukses penerapan SID di Sergai dengan tajuk “Sistem Informasi Desa : Kabar Baik Itu Berasal dari Desa”. Dalam berita tersebut, Rukiah (38) dari Desa Tanjung Harap, Serba Jadi kebanjiran pesanan keripik gosong setelah produknya dipromosikan melalui website desa.

Desa Tanjung Harap pun memanfaatkan SID untuk Analisis Kemiskinan Partisipatif (AKP). Salah satu tim pelaksana AKP M. Taufik Nasution mengatakan bahwa model pendataan AKP yang sederhana mampu menyimpan potensi sumber data yang luas dan terbuka. Tim AKP ini menggali data kemiskinan dari setiap warga sesuai dengan indikator-indikator kemiskinan yang disusun warga secara partisipatif. Harapannya pemerintahan desa memiliki database kemiskinan yang didapat dari masyarakat sendiri dan kedepannya berguna sebagai basis data untuk pembangunan dan pemberdayaan terhadap masyarakat miskin agar dapat mengurangi angka kemiskinan di desa.

Proses yang dilakukan dalam pendataan pun dilengkapi dengan cek lingkungan. Maksudnya untuk mengecek dan mengoreksi langsung apa yang disampaikan responden sesuai dengan keadaan sesungguhnya atau tidak. Data yang dihasilkan dalam proses pendataan ini harapannya bisa lebih terpercaya dibandingkan pendataan yang dilakukan oleh BPS.

Lain ladang lain belalang. Lain halnya dengan Tanjung Harap, Desa Bingkat Kecamatan Pegajahan memanfaatkan SID untuk transparansi dan pemerataan partisipasi pembangunan.

“Transparansi pengelolaan anggaran desa, kebijakan yang memihak kepentingan masyarakat desa merupakan visi baru pemimpin desa”, ungkap Rudi ST Kepala Desa Bingkat dalam pertemuan pembahasan visi pembangunan desa yang dilansir dari website BITRA Indonesia.

Rancangan dan rencana kegiatan pembangunan desa beserta anggarannya juga dibeberkan oleh kepala desa. Dalam hal pemerataan partisipasi pembangunan, tiap dusun di Desa Bingkat ada anggaran untuk membangun. Selain tiap dusun, Karang Taruna juga ada anggaran cukup untuk mengembangkan kegiatan agar lebih optimal.

Peningkatan pelayanan publik juga dirasakan oleh pemerintah desa maupun masyarakat di lima desa percontohan, terutama Desa Tanjung Beringin. Administrasi surat menyurat berlangsung cepat. Seluruh data kependudukan tersimpan di dalam SID. Format surat keterangan pun sudah ada di dalam SID, sehingga tidak perlu mengetik ulang.

Keterlibatan berbagai elemen masyarakat juga menjadi salah satu indikator pemanfaatan SID agar lebih optimal. Berbagi peran antara pemerintah desa dan masyarakat dalam pengelolaan SID juga bisa dilakukan. Pemerintah desa berperan dalam pengelolaan data, sedangkan masyarakat berperan sebagai pengelola informasi dalam kerangka jurnalisme warga.

Insiatif penerapan SID di Serdang Bedagai ini diprakarsai oleh BITRA Indonesia. Amanat Pasal 86 UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa ini mendorong BITRA Indonesia sebagai lembaga pengembang sumber daya manusia pedesaan untuk ikut terlibat dalam proses penerapan Sistem Informasi Desa yang menjadi wajib bagi seluruh desa. Menurutnya SID ini merupakan jendela pembuka cakrawala keberadaan desa kepada dunia. Bahkan ada banyak peluang sekaligus tantangan dengan desa menggunakan SID.

Komunikasi dengan Combine Resource Institution (CRI) sebagai salah satu lembaga yang mengembangkan Sistem Informasi Desa sejak 2009 pun dibangun. Akhirnya pada Juni 2015 BITRA Indonesia mengajak lima belas peserta perwakilan desa-desa dampingannya, Bappeda 3 Kabupaten di Sumatera Utara dan BITRA Indonesia sendiri datang ke Yogyakarta untuk belajar SID.

Selama lima hari CRI memfasilitasi Training of Trainer SID. Mulai dari sejarah gagasan dan arah pengembangan manfaat SID, pemetaan isu dan kebijakan pembangunan pedesaan di Sumatera Utara, pemetaan kapasitas desa dan lembaga pendamping, pelatihan teknis aplikasi SID, pelatihan Jurnalisme Warga serta kunjungan lapangan ke desa penerap SID di Balerante, Klaten dan Dlingo, Bantul.

Kerjasama penerapan SID di Sumatera Utara antara CRI dan BITRA Indonesia pun dibangun. BITRA Indonesia menjadi mitra lokal dalam penerapan SID. Beberapa kali CRI menggelar pelatihan penguatan teknis SID dan jurnalisme warga.

Simpul-simpul antara pemerintah desa, pemerintah daerah, masyarakat, dan lembaga pendamping yang telah ada dalam proses penerapan SID ini perlu selalu dijaga agar kencangnya pemanfaatan SID pun stabil. Bahrun Wardoyo Kepala Desa Dlingo, Bantul yang hadir dalam proses peluncuran SID di Kabupaten Sergai juga turut memberikan motivasi bahwa desa harus berani membangun dirinya untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.

Penulis : Maryani (Pengelolaan Pengetahuan – CRI)

Kartographer : Irman Ariadi (Analis Data dan Pengembangan Sistem Informasi – CRI)
sumber : Lumbung Komunitas

Mahasiswa Universitas Indonesia lakukan penelitian Sistem Informasi di Desa Dlingo

Mahasiswa Universitas Indonesia Lakukan Penelitian Sistem Informasi Di Desa Dlingo

Mahasiswa Universitas Indonesia Lakukan Penelitian Sistem Informasi Di Desa Dlingo

Dlingoworo-Dlingo, 11/05/2016 Kunjungan yang dilakukan Mahasiswa Jurusan Megister Kenotariatan & Hukum Administrasi Negara Universitas Indonesia ini diterima langsung oleh Lurah Desa Dlingo, Bahrun Wardoyo. Dalam kunjungan kali ini Riris & Sri sapaan dari mahasiswa UI ini datang langsung dari UI Depok Jawa Barat dengan tujuan penelitian kaitanya dengan Sistem Informasi.

Banyak kekaguman yang disampaikan oleh Riris kaitanya dengan Sistem Pemerintahan yang ada di desa Dlingo, saya tidak mengira Desa yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan ini ternyata tidak menyurutkan Pemerintah Desa untuk berani maju berkembang dengan masyarakat yang ada dikota. Sistem Informasi Desa yang dimiliki Desa Dlingo ini sangat luar biasa menurut saya ujar Riris dalam sela wawancaranya di radio Sandigita FM.

Kami sedang melaksanakan Penelitian dibeberapa wilayah yang ada di Indonesia kaitanya dengan Sistem Informasi Pertanahan yang nanti akan kami kembangkan untuk dapat memudahkan pelayanan kaitanya dengan pertanahan. mudah-mudahan setelah ijin dari kementrian turun nanti Desa Dlingo ini adalah Desa ke-2 di Indonesia yang akan menerapkan SIAP (Sistem Informasi Pertanahan) ini.

Sumber : Portal Desa Dlingo

Kopdar SID

Kopi Darat Sistem Informasi Desa atau Kopdar SID adalah wahana untuk berkumpul dan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang SID

Rangkaian kegiatan Kopdar SID:

  • Sesi Inkuiri Apresiatif.

    Sesi ini akan membahas sejarah perjalanan SID dan pemanfaatannya. Dalam sesi ini, para peserta Kopdar SID juga akan berbagi pengalaman mereka menggunakan SID dan tentang topik umum.

  • Peluncuran SID 3.04

  • Technical Working Groups.

    Sesi ini merupakan suatu upaya penajaman capaian-capaian yang telah berhasil dilakukan dalam penerapan SID. Sesi ini terbagi menjadi dua kelas secara paralel, yakni kelas Pemanfaatan SID dan Advokasi serta kelas Oprek Aplikasi SID.

Beberapa Liputan Tentang Kopdar SID

Kades Karang Bajo Persentasi Kopi Darat SID di Yogyakarta

Lombok Utara. Kepala Desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara Provinsi Nusa tenggara Barat . Kertamalip. Persentasikan Kopi Darat SID ( Sistim Informasi Desa ) diselenggarakan oleh Combine Resource Institution (CRI) bertempat di Pendapa Ajiyasa, Jogja National Museum, Jl. Amri Yahya No.1 Yogyakarta  22 -04-  2016

Sistem Informasi Desa (SID) sebagai salah satu bagian dari inisiatif CRI dan para mitra juga akan menjadi bagian dari JMR 2016. Ada sejumlah sesi acara yang terkait dengan inisiatif SID yang telah berjalan di berbagai daerah dalam 5 tahun terakhir. Secara khusus, CRI akan menggelar acara bertajuk “Kopi Darat SID” yang bertujuan untuk menghimpun dan membahas bersama pengalaman dan pengetahuan pemanfaatan SID, baik dari sisi teknis maupun dari sisi non-teknis.

Combine Resource Institution (CRI) kembali akan menggelar Jagongan Media Rakyat (JMR) pada 21-24 April 2016. JMR adalah agenda dua tahunan yang di inisiasi CRI sejak 2010. Kegiatan ini berisi workshop, diskusi, pameran dan pertunjukkan seni dengan beragam isu, dengan benang merah pada tata kelola informasi dan pengetahuan. Agenda ini terbuka bagi komunitas, lembaga, dan individu yang tertarik untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang tata kelola informasi dan pengetahuan terkait isu masing-masing.

Kegiatan ini dikelola dengan semangat sukarela dan kolaboratif. Mengusung tema “Menganyam Inisiatif Komunitas”, JMR 2016 membahas 25 isu yang dibagi dalam tiga klaster, yakni inovasi (perkotaan, kebencanaan, ekonomi kreatif dan teknologi informasi), advokasi (desa, lingkungan, heritage, hukum & HAM, maritim, pertanian, masyarakat adat, perlindungan anak, difabel dan kesehatan), dan literasi (jurnalisme, ekonomi mandiri, literasi media, media baru, seni & aktivisme sosial dan penerbitan independen). ( Ardes )

Bantul Ikuti Kopdar Sistem Informasi Desa di JMR 2016

 

Acara bertajuk Kopi Darat Sistem Informasi Desa (Kopdar SID), Jumat (22/04/2016) digelar di Pendapa Ajiyasa Jogja National Museum. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian Jagongan Media Rakyat 2016 yang digagas oleh Combine Resource Institution.

Kabupaten Bantul sebagai pengguna aplikasi SID dan Kantor PDT sebagai SKPD pengelola teknologi Informasi dan komunikasi turut berpatisipasi, turut hadir dalam kesempatan ini Pj Lurah Desa Murtigading Rudi Suharta SIP, MM, Lurah Desa Dlingo Bahrun Wardoyo dan Lurah Desa Gadinghajo Aan Indra.

Tim SID Combine RI Irman Ariadi memaparkan SID merupakan seperangkat alat dan proses pemanfaatan data dan informasi untuk mendukung pengelolaan sumberdaya berbasis komunitas di tingkat desa. SID dikembangkan sejak tahun 2009, hingga tahun 2016 ini telah diterapkan di lebih dari 1600 desa di Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I. Yogyakarta, Lombok dan beberapa wilayah lain.

Tujuan membangun SID yakni pemetaan kondisi dan potensi desa dengan data akurat dan mutakhir, penguatan kualitas pelayanan publik, serta penguatan perencanaan dan pengawasan pembangunan desa/kawasan. Dengan prinsip partisipatif, inklusif, transparan, akuntabel, dan berkelanjutan. Sedangkan entry point penerapan SID dimana setiap desa berbeda-beda yaitu keterbukaan informasi publik, pengurangan risiko bencana, dan penanggulangan kemiskinan.

Dalam sesi testimoni pengalaman pemanfaatan SID, Lurah Desa Dlingo dan beberapa Tim SID dari beberapa wilayah mempaparkan penerapan SID sejak tahap awal hingga saat in. KPDT berkesempatan memaparkan pengembangan SID di Kabupaten Bantul dan pengelolaan server SID.

Rangkaian Kopdar SID sesi terakhir yaitu Oprek Aplikasi SID. Aplikasi SID dikembangkan dengan prinsip sumber terbuka (open source) sehingga setiap pengguna bisa memodifikasi aplikasi. Dalam sesi kelas ini beberapa desa telah memodifikasi secara mandiri sesuai kebutuhan.

Presentasi dan Notulensi Kopdar SID

Kopi Darat SID (Sistem Informasi Desa) Oprek aplikasi Sistem Informasi Desa Presentasi Kopdar SID Presentasi Sesi Inkuiri Apresiatif Presentasi Sesi Oprek SID

Dokumentasi Kopdar SID

 Sumber : Portal Desa Karangbajo Website KPDT Bantul Website JMR 2016 Lumbung Komunitas