Welcome to LOGIC   Click to listen highlighted text! Welcome to LOGIC

Pameran fotograpi Kolaborasi lintas batas

Keyakinan akan hilangnya seni proses menjadi salah satu sebab hilangnya masa depan, serta untuk memperjuangkan kesadaran kreatif yang mewujud imajinasi, maka lahirlah Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) pada 17 Agustus 2002.

Dengan semangat ‘membuat bukan membeli’ akhirnya KLJI mampu memunculkan puluhan kreasi dan inovasi termasuk hybrid antara analog dan digital yang diharapkan bakal menjadi senjata andalan di pasar global.

Sayangnya, kebenaran umum hingga pemangku kebijakan cenderung menghargai hasil akhir yang instan, bukan proses yang butuh waktu. Jelas ini tantangan berat. Meski jatuh bangun, kini puluhan komunitas dan Unit Kegiatan Mahasiswa masih tetap hadir di pelosok Indonesia, termasuk masih berlangsungnya mata pelajaran KLJ yang resmi dijadikan kurikulum pengajaran fotografi. Bahkan melahirkan belasan Tugas Akhir Mahasiswa S1 dan Tesis S2 yang menyoroti KLJ dari berbagai sudut.

Ironinya di dunia fotografi Indonesia antara yang analog dan yang digital masih dipertentangkan, padahal faktanya semua makhluk hidup butuh kesatuan badan purba dan otak yang “analog” yang salah satu tugas “digital”nya adalah berimajinasi.

Jelas semuanya merupakan satu kesatuan hidup yang tak mungkin dipisah-pisahkan. Maka seharusnya tak perlu lagi mempermasalahkan batasan antara fotografi yang purba dan yang modern, karena teknologi akan terus berkembang.

Kilas balik sejarah fotografi menjadi menarik dibicarakan setelah lama terjadi kesimpangsiuran yang menyesatkan, akibat percepatan ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal ini merupakan ziarah peradaban yang dapat merunut sejarah peristiwa penemuan yang tersisih dan yang tak terdokumentasikan.

Meski diakui sangat sulit, seperti sejarah fotografi di Indonesia yang tidak terdokumentasikan secara baik dalam budaya teks. Harapannya paling tidak bisa didiskusikan dan memberi wacana baru, bahwa fotografi merupakan kolaborasi segala hasil imajinasi manusia sejak diikrarkannya budaya gambar cadas Maros berusia 40.000an tahun sebagai jejak visual yang tertua di dunia, hingga teknologi digital.

Yang perlu kita sadari hanya “sebuah kesadaran” bahwa imajinasilah yang mampu melahirkan seni, teknologi dan fotografi. Untuk itulah seni proses KOLABORASI LINTAS BATAS ini digelar.

Semoga kerja kita bisa menghadirkan kebersamaan aku yang ada…. #salam5jari

Kamera Lubang Jarum (KLJ) atau pinhole camera bukan alat yang sempurna namun menawarkan pemanjaan idealisme yang luar biasa. KLJ menawarkan seni proses yang sangat melelahkan tapi juga mengasyikkan.

KLJ bisa dibuat dari dus atau kaleng dilubangi sebatang jarum yang berfungsi sebagai lensanya. Pantas jika Leonardo Da Vinci menyatakan:”Siapa yang akan percaya dari sebuah lubang kecil, kita dapat melihat alam semesta”, karena terbukti KLJ mengajak kita untuk berada dalam suatu ruang yang cukup luas untuk olah pikir, olah rasa, bahkan olah fisik.

Namun ruang itu harus kita penuhi dengan aksi-aksi nyata sehingga bisa digunakan sebagai “kendaraan” pendidikan dan juga seni. Mungkin hal itu yang menggelitik sehingga sebaran KLJ bagaikan virus merambah ke seluruh Indonesia.

Di Indonesia untuk kalangan tertentu KLJ bukan hal baru. Karena alasan itulah tahun 2001 fotografer Ray Bachtiar Dradjat meluncurkan buku MEMOTRET DENGAN KAMERA LUBANG JARUM terbitan Puspaswara, dibarengi pameran KLJ karya Davy Linggar, Sjaiful Boen dan Ray Bachtiar Dradjat di Galeri I-see, jalan Diponegoro No.60, Jakarta. Selanjutnya Ray Bachtiar Studio (RBS) mensosialisasikannya secara gerilya di Jawa, Bali, dan Makassar. Puncaknya, 17 Agustus 2002, didirikan Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI).

Anggota KLJI terdiri dari berbagai genre, bahkan didominasi fotografer digital karena KLJI memang tidak mempersoalkan alat, tapi makna “lubang jarum” itu sendiri yang digaris bawahi. Lubang jarum berarti tantangan. Intinya dengan kreativitas dan kerja nyata kita harus berusaha lolos dari berbagai tantangan.

“Proses adalah bagian terpenting dari sebuah karya.

Hasil akhir hanyalah sebuah upacara”

Umumnya sambutan selalu baik. Saat “Gigir Manuk Multicultural Art Camp” bulan September 2002 di Bali, sempat berkolaborasi bersama seniman lukis, tekstil hingga teater. Selanjutnya sambutan di pendidikan fotografi formal dan non-formal pun cukup menggembirakan. Diantaranya sejak 2003 dijadikan mata pelajaran wajib di Media Rekam ISI Jogja, AKINDO Jogja, dan 2010 di Fakultas Seni Media Rekam IKJ Jakarta. Juga dijadikan pendidikan dasar fotografi Unit Kegiatan Mahasiswa diberbagai daerah hingga melahirkan instruktur-instruktur tangguh dan mencetak sarjana-sarjana KLJ.

Sosialisasi KLJ yang nyaris tanpa sponsor ini diperlebar oleh KLJI daerah dengan sasaran Pendidikan Ekstra Kulikuler setingkat SMP dan SMA, anak-anak Yatim Piatu, hingga anak jalanan. Hasilnya, hingga kini KLJI tersebar di berbagai penjuru tanah air seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Bandung, Subang, Cirebon, Semarang, Purwokerto, Yogyakarta, Solo, Semarang, Malang, Jember, Trenggalek, Sumenep, Makassar, Palembang,Bengkulu, Aceh, Bali, Makassar, Bone, Palu, Maros, Toraja dan Papua.

Beberapa Karya Irman Ariadi yang ikut serta dalam pameran tersebut adalah

Sumber : Ray Bachtiar Drajat

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: