Merapi Volcanic Rock Pinhole Camera

Sebuah model ekperimen untuk merekam imaji dan penciptaan ragam bentuk kamera dengan menggunakan material batuan beku jenis andesit sebagai produk letusan Gunungapi Merapi. Pemilihan material ini karena bahan baku mudah didapatkan khususnya bagi daerah yang memiliki gunungapi, salah satunya DIY. Tujuan lainnya agar tercipta karya seni dan atau peralatan lainnya yang akan menambah nilai fungsi batu andesit. Kamera dengan bahan baku utama dari batu andesit diharapkan mengugah terciptanya ragam bentuk kamera dari batuan jenis lainnya, dengan demikian akan memperkaya khazanah fotografi lubang jarum.

Tampak Depan

Tampak belakang

Sket

Dalam Buku Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Fotografi Nasional 2015-2019 disebutkan fotografi lubang jarum : Fotografi yang dalam pembuatannya menggunakan kamera lubang jarum. Kamera lubang jarum adalah benda yang memiliki ruang kedap cahaya dan kemudian diberi lubang sangat kecil di salah satu sisinya dan jarum dapat terbuat dari bahan apa saja.

Kamera batu didesain berbentuk tabung dengan panjang fokal 60 mm dengan bukaan kurang dari satu mili (0,3 mm) dan menghasilkan f/stop sekitar f/193. Pengukuran berdasarkan website http://www.zeroimage.com/tools/fstopcal4.php

Perekaman imaji dengan menggunakan media kertas peka cahaya dengan tingkat kepekaan rendah dan alat bantu kamar gelap portabel (changing bag). Hasil imaji yang diharapkan akan berupa panoramic view, kemudian diproses cuci dalam kamar gelap secara manual dengan menggunakan alat, bahan dan larutan untuk cuci kertas foto (peka cahaya) pada umumnya

dino dibatu

tulang raksasa

masih dalam buku yang sama, disana dituliskan tentang sejarah dan perkembangan fotografi, diantaranya.

Cukup banyak versi yang mencoba menjelaskan peristiwa yang menjadi titik awal perkembangan dunia fotografi. Peristiwa yang cukup populer adalah penemuan fenomena lubang jarum (pinhole) yang diperkenalkan Mo Zi, seorang ilmuwan dari Cina sekitar abad ke-5 SM.

Fenomena lubang jarum adalah munculnya gambar cahaya yang bersifat terbalik di suatu ruang gelap yang berasal dari titik yang sangat kecil di ruang tersebut. Gambar yang dihasilkan itu berasal dari lingkungan yang kaya akan cahaya dan letaknya tepat di depan titik. Mo Zi berhasil menjelaskan efek terbaliknya gambar bayangan tersebut. Menurutnya, hal itu itu terjadi karena sifat cahaya yang bergerak lurus.

Penemuan efek lubang jarum berlanjut kepada penemuan camera obscura dan kamera lubang jarum oleh Alhazen (Ibnu Al-Haytham) sekitar abad ke-10. “Camera” adalah bahasa Latin dari “ruangan” atau “kamar”, sedangkan “obscura” merupakan bahasa Latin dari “gelap”; “camera obscura” berarti “ruang atau kamar gelap”. Selain menemukan camera obscura, Alhazen juga berhasil menjelaskan bahwa apa yang terproyeksikan ke layar adalah gambar dari apa pun yang berada di depan aperture atau diafragma (bukaan lubang).

Camera obscura merupakan penemuan penting dalam sejarah fotografi karena menjadi cikal-bakal kamera foto yang kita kenal saat ini. Namun,camera obscura pada saat itu belum bisa merekam atau menyimpan gambar yang ia proyeksikan.

Lalu bermunculan ragam teknik perekaman imaji dan penciptaan kamera.

beberapa karya tentang seni fotografi lubang jarum di Indonesia dapat diakses pada tautan : https://indonesianpinhole.id/category/mini-galeri/

Mari membuat kamera

Mungkin Anda juga menyukai

%d blogger menyukai ini: