Welcome to LOGIC   Click to listen highlighted text! Welcome to LOGIC

Kontestasi Dominansi Kekuasaan oleh pemerintah dan ulama

Satu Duta Damai – Dominasi dan resistensi layaknya mahluk yang selalu berlomba untuk mendapatkan kuasa atas segalanya. Segala sesuatu yang ada kaitan dengannya, akan ia kuasai dengan segala pembenaran yang arogan hanya demi mewujudkan eksistensi sang kontestan.

Dominansi dan resistensi yang terciptakan diatas adalah sebuah moral hazard yang perlu diterapi sesegera mungkin, sebelum menjadi akut. Salah satu caranya adalah dengan pendekatan dialogis untuk menciptakan harmonisasi interaksi sosial.

Banyak hal hal baik yang telah diwariskan dan menjadikan peradaban menjadi lebih bermakna. Jika kita berkaca lagi jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. upaya integrasi ini sudah diwujudkan dalam moralitas Bhineka Tunggal Ika, semudah itukah kita hapuskan atas nama kontestasi dominansi ?

Atau jika hal ini masih bersifat imaginatif. Mari kita lihat sebuah sebuah filosofi yang berasal dari amanat para pendahulunya yaitu untuk menjaga kestabilan negara, agama dan budaya. Jangan sampai mementingkan salah satu tetapi pentingkanlah semuanya dan mendudukan pada takaran yang adil. Akhirnya mereka sampai saat ini tetap utuh

Secara kongkrit dalam kehidupan nyata, saya mengalami harmonisasi antara pemerintahan, ulama dan pendekar, sebuah perwujudan trias politica yang memiliki dampak postif signifikan dalam kehidupan. Tidak ada dominansi dan resistensi dari satu bagian.

Itulah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kesempurnaan yang tidak bercerai berai. Keutuhan NKRI adalah kebulatan tekad bangsa Indonesia untuk menjadikan Negara Indonesia sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh serta tidak bisa dipisah pisahkan.

Pendekatan dialogis sebagai wujud pembinaan integrasi nasional untuk membangun dan menghidupkan kehendak untuk bersatu. Menyirami jiwa sebangsa dan setanah air dan rasa persaudaraan. Menghilangkan kesempatan untuk berkembangnya primordialisme sempit pada setiap kebijaksanaan dan kegiatan.

Terapi ini diyakini akan memompa dan mempertebal rasa :

  1. Cinta tanah air dan bangsa;

  2. Menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme;

  3. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan bernegara;

  4. Mengutamakan persatuan, kesatuan, kepentingan, serta keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan;

  5. Rukun dan saling menghormati perbedaan;

  6. Mempertahankan kesamaan dalam kebersamaan;

  7. Taat hukum dan aturan.

Semoga Ibadah kita memiliki dampak sosial yang positif

Indahnya Berbagi Untuk Kedamaian,

Sumber : Satu Duta Damai

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: