Welcome to LOGIC   Click to listen highlighted text! Welcome to LOGIC

Kampus Biru Berlubang

IMG_7367

Catatan dari pelatihan merakit kamera dari bahan botol plastik, bersama hima Blue Hikers, di Fakultas Sastra Unpad, 30 Nopember 2011.

Ini kali pertama, tawaran lubang jarum dimesrai kawan-kawan di kampus biru sastra. Sebut saja begitu, karena aroma semerbak haru biru, menyambut antusias, komunitas lubang jarum Pinhole Bandung, hadir dalam dakwah tentang lubang. Andai saja Ashadi Siregar enggan berkata-kata dalam novel Cintaku di Kampus Biru tahun 1976, Fakultas Sastra harus mencari warna lain, untuk memaknai kampusnya.

Blue Stage, sekali lagi biru, ditata seenaknya oleh kawan-kawan Blue Hikers yang masih aktif. Hamparan kain hitam, cukup memberikan kesan ruang layak pakai untuk kegiatan pelatihan merakit kamera kali ini, sedangkan yang tersisa adalah mural didinding panggung permanen ini. Seonggok model kamera ukuran besar, dipajang diagonal sayap kanan, lengkap dengan tulisan “Lubang Jarum”. Bisa dikatakan penanda kegiatan berlangsung di tempat ini. Tepat pukul sembilan lebih seperempat, wadya balad Pinhole Bandung telah hadir; Roni Syahron Fajar, Benny, Kenas dari Blackhole UPI, Agung Syraif Rahmatulloh dari Cianjur, Ahmad “hijab” Afgan, Irman Ariadi, Deni Sugandi dan dari tuan rumah diwakili Oseng dan Audi.

Selalu saja ada yang harus lain dari yang lain, penyelenggaraan pelatihan kali ini, merakit kamera dari bentuk botol plastik kemasan merek Peko produk botol minuman kemasan Walini. Sebut saja ini adalah tantangan, bagaimana caranya botol transparan seperti ini bisa digunakan juga menjadi kamera. Proses panjang perenungan pun sudah dilakukan sehari sebelumnya, bagaimana caranya kemasan plastik tembus pandang ini bisa kedap cahaya.

Kreatif itu selalu ada bila sudah terdesak. Kurang lebih 3 jam memandanngi botol plastik, berdialog dengan diri sendiri, akhirnya muncul gagasasan! Begitulan pergulatan Irman Boy Ariadi dan Deni Sugandi, mengemas bentuk botol plastik menjadi kamera. Secara teknis, bentuk yang telah ada, kemudian dimodifikasi sesuai kebutuhan. Botol plastik kemudian dibelah menggunakan pemotong, cutter, menjadi dua. Kemudian bagian dalam dilapisi karton hitam. Teknik pelapisan pun tidaklah begitu sulit, yang jelas adalah kerapihan, supaya cahaya tidak tembus kedalam. Selanjutnya adalah menutupi bagian atas dengan plastik polibag, dua lembar dan diikat dengan karet, selesai!.

Tetapi tidak semudah itu. Tantangan berikutnya adalah bagaimana caranya mengkomunikasikan pada partisipan. “Kang, sebagian bisanya jam 12 siang” teriak Audi Nuraisa, ketua panitia pelatihan. Menunggu adalah kurang bijaksana, akhirnya diputuskan sambil berjalan, pelatihan dimulai pukul sepuluh pagi. Hingga jelang siang, beberapa orang sudah selesai merakit, saatnya uji coba. Seperti biasa, Roni membantu peserta di kamar gelap. Ruang 3x4meter sekretariat himpunan mahasiswa, dipinjam secara paksa, disulap menjadi kamar gelap. Untung saja, kawan-kawan di kampus mempunyai properti kain hitam, sebagai penutup ruang menjadi gelap.

Partisipan hadir seperti air mengalir, karena mereka masih terikat dengan jam kuliah. Beberapa hadir lebih awal dan tentu saja sudah bisa melakukan perekaman. Decak aneh ajaib mucul disungging bibir mereka, ternyata proses ajaib ini sangat memesona di kamar gelap. Gambar mulai muncul dalam hitungan detik di dalam larutan developer, menandai bahwa proses proyeksi cahaya berhasil direkam permanen. Fenomena ajaib ini memang selalu saja memukau siapa saja yang hadir, hingga beberapa partisipan rela antri sebelum masuk kamar gelap.

Ruang sempit ini kalah dikepung lebih dari bersepuluh sekali proses, untung saja Roni punya cara jitu tetap tampil bugar, meskipun di dalam ruangan ini cukup hangat. “Gambar saya kok kenapa hitam?” tanya Gan, salah seorang partisipan dari Fikom, yang kemudian dijawab dengan sabar oleh Irman Ariadi, “Kemungkinan ada cahaya yang masuk, alias bocor”. Jadi kamera ini akan berfungsi baik, bila cahaya yang diijinkan masuk hanya dari lubang bagian depan saja. Rasa penasaran seperti ini, memang selalu menjadi gereget pelatihan lubang jarum, bagaimana caranya rekam permanen terjadi.

Partisipan yang hadir lebih dari 26 orang, adalah mahasiswa dari kampus sastra dan sekitarnya. Semuanya belum pernah mencoba merakit kamera, atau memotret. Kesempatan seperti ini, adalah memuaskan rasa dahaga haus, keterampilan yang tidak diterima di ruang kuliah; belajar sabar saat merakit, membaca ketelitian ketika mamasang karton hitam agar kedap cahaya, improvisasi kreatif saat merakit kamera, imajinasi menentukan komposisi visual dan belajar proses di kamar gelap. Semuanya satu paket! Kehdiran Pinhole Bandung di kampus ini, turut mewarnai biru langit sebagai pencerah wawasan, bahwa lubang jarum turut mengajarkan keterampilan, modal dasar untuk bertahan setelah tuntas di kampus. (denisugandi@gmail.com)

Sumber : Pinhole Bandung

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: