Welcome to LOGIC   Click to listen highlighted text! Welcome to LOGIC

Berbagi Cerita Sistem Informasi Desa: Banyak Hal Mesti Dibenahi

sid_concat

sid_concat

Solider.or.id, Yogyakarta – Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) mengadakan sesi berbagi pengalaman tentang sistem informasi desa di Taman Kuliner Condong Catur, Yogyakarta, Jum’at (22/1). Acara ini merupakan salah satu bagian program Rintisan Desa Inklusi (RINDI) yang mengajak desa merumuskan sistem informasi desa yang inklusif dan diakses semua warga.

Acara yang mengajak perangkat, fasilitator desa dampingan RINDI dari Sendangadi dan Sendangtirto ini menemukan sejumlah persoalan tata kelola informasi desa.

Sistem aplikasi selalu berubah-ubah tergantung siapa yang berwenang, jadi perangkat desa selalu kesulitan untuk menentukan sistem yang baik,” ungkap Dodi Alkatiri, fasilitator desa Sendangadi Sleman. Laki-laki yang juga tergabung dalam organisasi difabel di desanya ini juga menyatakan bahwa anggaran masih jadi kendala.

oleh karenanya menurut kami, perlu adanya sistem informasi yang terintegrasi sampai ke pusat karena memang sistem data seolah-olah terkotak-kotak sesuai dengan kepentingan yang ada. Sumber daya manusia yang terbatas juga masih menjadi kendala tersendiri. SDM yang ada di Sendang Adi ini memang secara kuantitas masih kurang, perlu adanya regenerasi,” tambahnya. Dodi mengusulkan adanya pelatihan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan serta penyebaran informasi desa lewat web yang mudah diakses.

Hampir serupa dengan desa Sendangadi, menurut Herman, salah satu perangkat desa Sendangtirto mengungkapkan bahwa di desanya belum mempunyai web desa. “Berbagai data yang ada di desa masih disajikan secara manual dan masih tradisional, belum bisa diakses secara online,” ungkapnya.

Masalah dua desa tersebut hampir sama seperti pendataan yang simpang siur dan konten yang berbeda antar pendataan. Selain itu, minimnya sumber daya pengelola data dan perangkat desa yang sedikit dengan beban kerja yang tidak sebanding.

Harapannya dengan adanya undang-undang desa ini nantinya akan bisa merekrut perangkat baru yang bisa menangani persoalan IT dan pengelolaan data desa. Selama ini keterampilan perangkat desa tantang IT masih sangat kurang. Dari aspek perlengkapan IT juga masih kurang. Selama ini komputer yang ada di kantor desa sudah ketinggalan zaman. Media informasi yang ada di desa hanya papan pengumuman”pungkas Herman (Ajiwan Arief)

sumber : Portal berita Solider

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: